Faktor kunci
perkembangan teknologi telah menimbulkan berbagai masalah global, antara lain
pemanasan bumi karena dampak rumah kaca yang timbul dari peningkatan gas di
atmosfer, terutama CO2, NOX dan SO2 dari perpacuan penggunaan energi fosil.
Berbagai gas di atmosfer ini berpotensi menimbulkan hujan asam yang menurunkan
pH air hujan dari rata-rata 5,6 (O3) karena penggunaan chlorofluorocarbon (CFC)
yang menipiskan lapisan ozon karena reaksi Cl dengan O3 menjadi ClO dan 02,
sehingga lapisan ozon tidak mungkin mengurangi tembusnya sinar ultraviolet B
yang merupakan masalah kehidupan di Bumi, termasuk kesehatan manusia.
Di permukaan Bumi juga
terjadi pencemaran oleh limbah bahan beracun dan berbahaya. Berbagai kasus
menurunnya kualitas lingkungan ini antara lain mengakibatkan mutasi gen manusia
yang terselubung. Secara global keprihatinan dan masalah lingkungan sebenarnya
sudah timbul mulai pada permulaan revolusi industri pertengahan abab 18 di
Inggris yang menggantikan sebagian dari tenaga manusia dengan tenaga mesin
disekitar tahun 1750. Hal ini dimulai pula di Amerika pada tahun 1800.
Penggantian tenaga dan kemampuan lain dari manusia ini ditandai dengan revolusi
cybernetic, di mana dalam berbagai tindakan lebih diutamakan penggunaan mesin.
Proses ini dilanjutkan dengan penggunaan berbagai bahan kimia, tenaga
radioaktif, mesin tulis, mesin hitung, komputer dan sebagainya.
Pada tahun 1950 timbul
penyakit itai-itai ( aduh-aduh) di Teluk Minamata, Jepang karena keracunan
limbah Cd dan Hg. Tahun 1962 terbit buku The Silent Spring dari Rachel Carson
yang mengeluhkan sepinya musim semi dari kicauan burung-burung, karena
penggunaan pestisida yang berlebihan telah menyebabkan pecahnya kulit telur
yang mengancam kelangsungan hidup burung. 51 Pada tanggal 5 - 12 Juni 1972 atas
usul Pemerintah Swedia diselenggarakan UN Conference on the Human Environment
(Konferensi Stockholm) dengan harapan untuk melindungi serta mengembangkan
kepentirgan dan aspirasi negara berkembang. Tahun 1987 terbit laporan dari The
World Commission on Environment and Development berjudul "Our Common
Future" yang mengetengahkan perlunya pembangunan dilaksanakan dengan
wawasan lingkungan yang disebut sebagai sustainable development. Komisi ini
dikenal sebagai Komisi Brundtland. Pada tahun 1992 di Rio de Jancrio, Brazil
diselenggarakan pertemuan puncak UN Conference on Environment and Development
(UNCED) yang menghasilkan Deklarasi Rio, dan Agenda-21 yang merupakan
"action plan" guna mengarahkan strategi dan integrasi program
pcmbangunan dengan penyelamatan kualitas lingkungan. Kanferensi Rio juga
menghasilkan Konvensi tentang Perubahan Iklim, Konvensi Keanekaragaman Hayati
dan Pernyataan tentang Prinsip Kehutanan.
Prinsip Kehutanan ini
berupa pedoman pengelolaan hutan oleh negara, berupa perlindungan serta
pemeliharaan semua tipe hutan yang bermakna ekonomi bagi keselamatan berbagai
jenis biota di dalamnya. Pada tahun 1997 Dewan Bumi (The Earth Council) yang
dibentuk sebagai kelanjutan dari Konferensi Rio telah merumuskan Piagam Bumi
(the Earth Charter) yang disebarluaskan pada tahun 2000. Piagam Bumi ini
merupakan himbauan untuk menciptakan Bumi masa depan yang berlandaskan tanggung
jawab universal untuk peduli pada kualitas hidup melalui integritas ekologi,
keadilan sosial dan ekonomi, dan terciptanya demokrasi, kerukunan dan
perdamaian di Bumi. Tahun 2002 dari tanggal 2 sampai 5 September telah
dilaksanakan World Summit on Sustainable Development di Johannesburg, Afrika
Selatan yang dihadiri delegasi Indonesia. Presiden RI menyampaikan pidato di
sidang pleno dengan mengajukan himbauan agar kita bertindak bersama
melaksanakan kesepakatan untuk memerangi kemiskinan dan keterbelakangan, serta
upaya bersama untuk menghentikan perusakan sumber daya alam disertai urgensi
dalam upaya untuk penyelamatannya. Program ini diharapkan dapat terlaksana
antara lain melalui pengekangan pola produksi dan konsumsi sumber daya alam.
Salah satu hasil lain dari Konferensi Puncak ini adalah 52 rencana untuk
melaksanakan pembangunan berkelanjutan untuk perempuan dan anak-anak.
Sumber :
Utina, Ramli dkk. 2009. Ekologi Dan
Lingkungan Hidup. Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo.
http://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/321/ekologi-dan-lingkungan-hidup.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar