Electricity Lightning April 05, 2016

Selasa, 29 Mei 2018

Masalah Lingkungan

Faktor kunci perkembangan teknologi telah menimbulkan berbagai masalah global, antara lain pemanasan bumi karena dampak rumah kaca yang timbul dari peningkatan gas di atmosfer, terutama CO2, NOX dan SO2 dari perpacuan penggunaan energi fosil. Berbagai gas di atmosfer ini berpotensi menimbulkan hujan asam yang menurunkan pH air hujan dari rata-rata 5,6 (O3) karena penggunaan chlorofluorocarbon (CFC) yang menipiskan lapisan ozon karena reaksi Cl dengan O3 menjadi ClO dan 02, sehingga lapisan ozon tidak mungkin mengurangi tembusnya sinar ultraviolet B yang merupakan masalah kehidupan di Bumi, termasuk kesehatan manusia.
Di permukaan Bumi juga terjadi pencemaran oleh limbah bahan beracun dan berbahaya. Berbagai kasus menurunnya kualitas lingkungan ini antara lain mengakibatkan mutasi gen manusia yang terselubung. Secara global keprihatinan dan masalah lingkungan sebenarnya sudah timbul mulai pada permulaan revolusi industri pertengahan abab 18 di Inggris yang menggantikan sebagian dari tenaga manusia dengan tenaga mesin disekitar tahun 1750. Hal ini dimulai pula di Amerika pada tahun 1800. Penggantian tenaga dan kemampuan lain dari manusia ini ditandai dengan revolusi cybernetic, di mana dalam berbagai tindakan lebih diutamakan penggunaan mesin. Proses ini dilanjutkan dengan penggunaan berbagai bahan kimia, tenaga radioaktif, mesin tulis, mesin hitung, komputer dan sebagainya.
Pada tahun 1950 timbul penyakit itai-itai ( aduh-aduh) di Teluk Minamata, Jepang karena keracunan limbah Cd dan Hg. Tahun 1962 terbit buku The Silent Spring dari Rachel Carson yang mengeluhkan sepinya musim semi dari kicauan burung-burung, karena penggunaan pestisida yang berlebihan telah menyebabkan pecahnya kulit telur yang mengancam kelangsungan hidup burung. 51 Pada tanggal 5 - 12 Juni 1972 atas usul Pemerintah Swedia diselenggarakan UN Conference on the Human Environment (Konferensi Stockholm) dengan harapan untuk melindungi serta mengembangkan kepentirgan dan aspirasi negara berkembang. Tahun 1987 terbit laporan dari The World Commission on Environment and Development berjudul "Our Common Future" yang mengetengahkan perlunya pembangunan dilaksanakan dengan wawasan lingkungan yang disebut sebagai sustainable development. Komisi ini dikenal sebagai Komisi Brundtland. Pada tahun 1992 di Rio de Jancrio, Brazil diselenggarakan pertemuan puncak UN Conference on Environment and Development (UNCED) yang menghasilkan Deklarasi Rio, dan Agenda-21 yang merupakan "action plan" guna mengarahkan strategi dan integrasi program pcmbangunan dengan penyelamatan kualitas lingkungan. Kanferensi Rio juga menghasilkan Konvensi tentang Perubahan Iklim, Konvensi Keanekaragaman Hayati dan Pernyataan tentang Prinsip Kehutanan.
Prinsip Kehutanan ini berupa pedoman pengelolaan hutan oleh negara, berupa perlindungan serta pemeliharaan semua tipe hutan yang bermakna ekonomi bagi keselamatan berbagai jenis biota di dalamnya. Pada tahun 1997 Dewan Bumi (The Earth Council) yang dibentuk sebagai kelanjutan dari Konferensi Rio telah merumuskan Piagam Bumi (the Earth Charter) yang disebarluaskan pada tahun 2000. Piagam Bumi ini merupakan himbauan untuk menciptakan Bumi masa depan yang berlandaskan tanggung jawab universal untuk peduli pada kualitas hidup melalui integritas ekologi, keadilan sosial dan ekonomi, dan terciptanya demokrasi, kerukunan dan perdamaian di Bumi. Tahun 2002 dari tanggal 2 sampai 5 September telah dilaksanakan World Summit on Sustainable Development di Johannesburg, Afrika Selatan yang dihadiri delegasi Indonesia. Presiden RI menyampaikan pidato di sidang pleno dengan mengajukan himbauan agar kita bertindak bersama melaksanakan kesepakatan untuk memerangi kemiskinan dan keterbelakangan, serta upaya bersama untuk menghentikan perusakan sumber daya alam disertai urgensi dalam upaya untuk penyelamatannya. Program ini diharapkan dapat terlaksana antara lain melalui pengekangan pola produksi dan konsumsi sumber daya alam. Salah satu hasil lain dari Konferensi Puncak ini adalah 52 rencana untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan untuk perempuan dan anak-anak.

Sumber :
Utina, Ramli dkk. 2009. Ekologi Dan Lingkungan Hidup. Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo.
http://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/321/ekologi-dan-lingkungan-hidup.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar