Electricity Lightning April 05, 2016

Minggu, 08 April 2018

Pentingnya Melestarikan Daya Dukung Lingkungan Dan Keterbatasan Sumber Daya Alam Dalam Pembangunan Serta Kaitannya Dengan Peran Teknologi Dalam Pembangunan Dan Pengelolaan Lingkungan


Andre Prima 
30415717
3ID09

Daya dukung lingkungan hidup merupakan kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Penentuan daya lingkungan hidup dilakukan dengan  cara mengetahui kapasitas lingkungan alam dan sumber daya untuk mendukung kegiatan manusia / penduduk  yang menggunakan ruang bagi kelangsungan hidup. Besarnya kapasitas tersebut di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan dan karakteristik sumber daya yang ada di hamparan ruang yang bersangkutan. Kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya akan menjadi faktor pembatas dalam penentuan pemanfaatan ruang yang sesuai.

Daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity). Dalam pedoman ini, telaahan daya dukung lingkungan hidup terbatas pada kapasitas penyediaan sumber daya alam, terutama berkaitan dengan kemampuan lahan serta ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air dalam suatu ruang / wilayah. Oleh karena kapasitas sumber daya alam tergantung pada kemampuan, ketersediaan, dan kebutuhan akan lahan dan air, penentuan daya dukung lingkungan hidup dalam pedoman ini dilakukan berdasarkan 3 (tiga) pendekatan, yaitu:

a) Kemampuan lahan untuk alokasi pemanfaatan ruang.

b) Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan.

c) Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air.

Pembangunan  yang berhasil akan berarti meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melindungi lingkungannya. Telah diketahui bahwa kelompok miskin adalah kelompok yang sering menderita sebagai akibat kerusakan lingkungan; sebab masyarakat yang miskin tidak mampu mengeluarkan dana yang besar untuk investasi dalam penanggulangan pencemaran baik untuk udara, air, maupun tanah, karena mereka tidak mampu menyisihkan sebagian dari penghasilannya sebagai tabungan yang kemudian diinvestasikan dalam bentuk pengendalian pencemaran. Sebagian besar kelompok miskin bekerja pada kegiatan yang tinggi kadar pencemarannya. Bukti-bukti yang ada di dunia ini menunjukkan bahwa negara maju pada umumnya memiliki kondisi lingkungan yang lebih nyaman dan baik dibanding negara-negara sedang berkembang. Oleh karena itu, tidak salah apabila penghapusan kemiskinan yang merupakan tujuan pembangunan harus segera direalisasikan karena sebenarnya bersama dengan itu akan tersisih dana dan ada peningkatan kesadaran untuk memelihara lingkungan agar menjadi lebih baik.

Di samping itu memang banyak kebijakan pembangunan yang ditujukan untuk memperbaiki lingkungan, tetapi pada umumnya masih banyak kebijakan-kebijakan baik itu kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter yang hanya dilihat dampaknya terbatas pada aspek produksi dan pendapatan tanpa melihat lebih jauh mengenai dampaknya terhadap lingkungan. Sebagai misal dari studi di Uruguay ditemukan bahwa perubahan sistem subsidi dan perpajakan ke sistem mekanisme pasar telah mengurangi kehilangan tanah karena erosi setinggi 13% per tahun 7). Kondisi lingkungan yang rusak sebenarnya juga merupakan beban yang tidak ringan bagi pembangunan. Perbaikan lingkungan yang rusak akan merupakan beban yang berat dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit yang harus dipikul oleh negara yang bersangkutan8). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dengan memelihara lingkungan yang baik, mau tidak mau biaya pembangunan akan menjadi lebih ringan dan dengan sendirinya dana yang telah dipupuk akan dapat diinvestasikan lebih jauh lagi. Hal ini jelas membutuhkan kebijakan pemerintah yang tepat.

             Teknologi pengelolaan lingkungan dalam berbagai kegiatan sangat penting artinya dalam upaya pencegahan pencemaran lingkungan. Upaya pendekatan teknologi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan harus secara maksimal diupayakan. Pencegahan pencemaran melalui proses dan produk dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang tidak menghasilkan atau seminimal mungkin menghasilkan limbah. Oleh karena itu pengembangan teknologi pengelolaan lingkungan dilakukan secara terus menerus.


            Transfer teknologi merupakan masalah penting terutama bagi negara berkembang. Pada kenyataanya banyak teknologi yang dijual di negara berkembang merupakan teknologi bekas yamg sudah tidak digunakan lagi karena sudah tidak memenuhi standar yang baru ataupun peraturan yang berlaku. Menghadapi masalah globalisasi di bidang lingkungan dan pembangunan, transfer teknologi akrab lingkungan menjadi masalah penting tidak hanya dalam lingkup nasional, maupun juga dalam lingkup internasional.Permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan teknologi lingkungan adalah sebagai berikut:

1. Teknologi lingkungan masih dianggap sebagai parameter yang memperbesar biaya
produksi.

2. Tidak semua teknologi lingkungan yang diimpor sesuai dan dapat memberikan
effektifitas yang sama apabila di pasang di negara pengguna.

3. Teknologi lingkungan yang ada saat ini, kebanyakan diperuntukan untuk industri
besar sehingga tidak ekonomis untuk diperuntukan pada IKM/UKM.

4. Terbatasnya jenis lingkungan tepat guna dan ramah lingkungan.

5. Belum adanya mekanisme verifikasi serta menginformasikan setiap teknologi
lingkungan yang handal dan layak untuk dugunakan oleh masyarakat.

Beberapa isu pokok mengenai penggunaan sumber daya alam adalah sebagai berikut, isu pertama dikemukakan dengan pertanyaan mengenai “berapa lama dan dalam keadaan bagaimana kehidupan manusia dapat berlangsung terus di bumi ini dengan persediaan tertentu dan sumber daya yang melekat di suatu tempat (insitu resources), yang dapat diperbaharui tetapi dapat rusak, serta terbatasnya sistem lingkungan hidup”. Laporan kelompok Roma dalam “batas-batas pertumbuhan” menunjukkan kemungkinan dunia akan ambruk karena sumber daya yang penting (seperti bahan bakar minyak dan batubara) terbatas jumlahnya; sedangkan tingkat konsumsi dunia terus menerus meningkat.

Beberapa sumber daya alam yang dapat diperbaharui (seperti perikanan dan sumber daya air) sedang mengalami kerusakan dan pencemaran, demikian pula kapasitas lingkungan menjadi semakin terbatas. Sebagai gambaran, jika penggunaan sumber daya alam meningkat 5% per tahun, tingkat penggunaan itu meningkat menjadi dua kali lipat dalam waktu 14 tahun2). Jika sekarang ini persediaan diketahui 100 kali penggunaan saat ini pula, maka persediaan yang ada akan habis dalam waktu 36 tahun. Meskipun ada penemuan hebat dan membuat persediaan 200 kali penggunaan sekarang, persediaan itu akan habis dalam waktu 48 tahun.

Isu ke dua mengenai lokasi persediaan yang diketahui. Misalnya persediaan minyak dunia banyak dan terus ditemukan, tetapi persediaan tadi semakin jauh dan para konsumen, terutama negara-negara Barat. Oleh karena itu, adanya tekanan politik dan kenaikan harga akan menyulitkan konsumen. Timbullah embargo minyak oleh OPEC pada tahun 1972. Isu ketiga adalah adanya pengalaman sejarah mengenai pergeseran dari sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) ke sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (stock resources). Misalnya batu bara menjadi semakin penting setelah persediaan arang kayu semakin sedikit serta harganya naik. Sektor pertanian di Amerika mengganti tenaga ternak dengan mesin yang menggunakan bahan bakar minyak. Barang-barang konsumsi pindah dari barang yang dapat dipakai lagi ke barang-barang yang sekali pakai. Apakah kita dapat kembali ke keadaan semula setelah barang-barang sumber daya alam semakin sedikit persediaannya.

Isu ke empat berhubungan dengan kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam pada masa yang lampau di mana banyak tindakan yang tidak bijaksana, berpandangan dekat, eksploitasi yang terlalu rakus terhadap sumber daya alam. Isu ke lima apakah kita telah benar-benar mengerti peranan dan pentingnya sumber daya alam dan lingkungan sebagai faktor-faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi di masa lampau. Analisis pertumbuhan sering dihubungkan dengan perubahan teknologi dan tenaga kerja (human capital), tetapi kurang sekali dihubungkan dengan sumber daya alam serta kesediaan lingkungan sebagai tempat membuang limbah hasil-hasil pembangunan. Padahal di kemudian hari mungkin hal lingkungan dan sumber daya alam itu sukar didapat. Isu ke enam ialah bahwa kita semakin tergantung pada sumber daya alam yang semakin rendah kualitasnya. Terlebih lagi untuk mengolah sumber daya alam ini dibutuhkan lebih banyak energi dan biaya. Isu ke tujuh ialah semakin memburuknya keadaan lingkungan. Isu ke delapan ialah tentang peranan yang diberikan kepada mekanisme pasar dalam menentukan bagaimana sumber daya alam itu dikelola sepanjang waktu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar