KELAS : 1ID10
NPM : 30415717
BAB
2
MANUSIA DAN
KEBUDAYAAN
A. MANUSIA
Manusia dapat
dipandang dari banyak
segi, diantaranya adalah
pandangan dalam ilmu eksakta,
manusia dipandang sebagai
kumpulan dari partikel-partikel atom
yang membentuk jaringan-jaringan sistem
yang dimiliki oleh
manusia (ilmu kimia),
manusia merupakan kumpuulan
dari berbagai sistem
fisik yang saling
terkait satu sama
lain dan merupakan
kumpulan dari energi
(ilmu fisika), manusia
merupakan mahluk biologis
yang tergolong dalam
golongan mahluk mamalia
(biologi). Dalam ilmu sosial,
manusia merupakan mahluk
yang ingin memperoleh
keuntungan atau selalu
memperhitungkan setiap kegiatan,
sering disebut homo
economicus (ilmu ekonomi),
manusia merupakan mahluk
sosial yang tidak
dapat berdiri sendiri
(sosiologi), mahluk yang
selalu ingin mempunyai
kekuasaan (politik), mahluk
yang berbudaya, sering
disebut homo-humanus (filsafat),
dan lain sebagainya.
Ada dua
pandangan yang akan
kita jadikan acuan
untuk menjelaskan tentang
unsur-unsur yang membangun
manusia.
1) Manusia itu
terdiri dari empat
unsur yang saling
terkait, yaitu :
a. Jasad :
badan kasar manusia
yang nampak pada
luarnya, dapat diraba
dan difoto, dan
menempati ruang dan
waktu.
b. Hayat :
mengandung unsur hidup,
yang ditandai dengan
gerak.
c. Ruh :
bimbingan dan pimpinan
Tuhan, daya yang
bekerja secara spritual
dan kebenaran, suatu
kemampuan mencipta yang
bersifat konseptual yang
menjadi pusat lahirnya
kebudayaan.
d. Nafs, dalam
pengertian diri atau
keakuan, yaitu kesadaran
tentang diri sendiri.
2) Manusia sebagai
satu kepribadian mengandung
tiga unsur yaitu :
a. Id, yang
merupakan struktur kepribadian
yang paling primitif
dan paling tidak
nampak.
b. Ego, merupakan
bagian atau struktur
kepribadian yang pertama
kali dibedakan dari
Id, seringkali disebut
sebagai kepribadian “eksekutif”
karena peranannya dalam
menghubungkan energi Id
kedalam saluran sosial
yang dapat dimengerti
oleh orang lain.
c. Superego, merupakan
kesatuan standar-standar moral
yang diterima oleh
ego dari sejumlah
agen yang mempunyai
otoritas didalam lingkungan
luar diri, biasanya
merupakan asimilasi dari
pandangan-pandangan orang tua.
B. HAKEKAT
MANUSIA
a. Mahluk
ciptaan tuhan yang
terdiri dari tubuh
dan jiwa sebagai
satu kesatuan yang utuh.
Tubuh adalah
materi yang dapat
dilihat, diraba, dirasa,
wujudnya konkrit tetapi
tidak abadi. Jiwa adalah
roh yang ada
didalam tubuh manusia
sebagai penggerak dan
sumber kehidupan.
b.
Mahluk
ciptaan Tuhan yang
paling sempurna, jika
dibandingkan dengan mahluk
lainnya.
Kesempurnaannya terletak
pada adab dan
kebudayaannya, manusia memiliki
akal, perasaan, dan
kehendak yang terdapat
didalam jiwa. Dengan akal,
manusia mampu menciptakan
ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dengan perasaan, manusia
mampu menciptakan kesenian.
Perasaan itu ada
dua macam, yaitu
perasaan inderawi dan
perasaan rohani. Perasaan inderawi adalah
rangsangan jasmani melalui
pancaindra,tingkatnya rendah dan
terdapat pada manusia
atau binatang. Perasaan
rohani
adalah perasaan luhur
yang hanya terdapat
pada manusia, misalnya
:
1)
Perasaan
intelektual, yaitu perasaan
yang berkenaan dengan
pengetahuan.
2)
Perasaan
estetis, yaitu perasaan
yang berkenaan dengan
keindahan.
3)
Perasaan
etis, yaitu perasaan
yang berkenaan dengan
kebaikan.
4)
Perasaan
diri, yaitu perasaan
yang berkenaan dengan
harga diri karena
ada keleihan dari
yang lain.
5)
Perasaan
sosial, yaitu perasaan
yang berkenaan dengan
kelompok atau korp
atau hidup bermasyarakat, ikut
merasakan kehidupan orang
lain.
6)
Perasaan
religius, yaitu perasaan
yang berkenaan dengan
agama atau kepercayaan.
Adanya kehendak dari
setiap manusia mampu
menciptakan perilaku tentang
kebaikan menurut moral.
c. Mahluk
biokultural, yaitu mahluk
hayati yang budayawi.
Sebagai mahluk
hayati, manusia
dapat dipelajari dari
segi-segi anatomi, fisiologi
atau faal, biokimia,
psikobiologi, patalogi, genetika,
biodemografi, evolusi biologisnya,
dan lainnya. Sebagai
mahluk budayawi manusia dapat
dipelajari dari segi-segi,
kemasyarakatan, kekerabatan, psikologi
sosial, kesenian, ekonomi,
perkakas, bahasa, dan
lainnya.
d. Mahluk
ciptaan Tuhan yang
terikat dengan lingkungan
(ekologi), mempunyai kualitas
dan martabat karena
kemampuan bekerja dan
berkarya.
Soren kienkegarard
seorang filsuf Denmark
pelopor ajaran “eksistensialisme” memandang
manusia dalam konteks
kehidupan konkrit adalah
mahluk alamiah yang
terikat dengan lingkungannya
(ekologi), memiliki sifat-sifat
alamiah dan tunduk
pada hukum alamiah
pula.
Hidup manusia
mempunya tiga taraf,
yaitu estetis, etis,
dan religius. Dengan estetis,
manusia mampu menangkap
dunia sekitarnya sebagai
dunia yang mengagumkan
dan mengungkapkan kembali
(karya) dalam lukisan,
tarian, nyanyian, yang
indah. Dengan etis, manusia
meningkatkan kehidupan estetis
ke dalam tingkatan
manusiawi dalam bentuk-bentuk
keputusan bebas dan
dipertanggungjawabkan. Dengan
religius, manusia menghayati
pertemuannya dengan Tuhan.
C.
KEPRIBADIAN BANGSA
TIMUR
Francis L.K
Hsu telah mengembangkan
suatu konsepsi, bahwa
dalam jiwa manusia
sebagai mahluk sosial
budaya itu mengandung
delapan daerah yang
seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris
sekitar diri pribadi.
Lingkaran 6
dan 7 berada
di daerah dari
dalam jiwa individu
dan terdiri dari
bahan pikiran dan
gagasan yang telah
terdesak kedalam, sehingga
tidak disadari lagi
oleh individu yang bersangkutan.
Lingkaran 5
terdiri dari pikiran-pikiran dan
gagasan-gagasan yang disadari
oleh si individu
yang bersangkutan,tetapi disimpannya
saja didalam jiwanya
sendiri dan tak
dinyatakan kepada siapapun
juga dalam lingkungannya.
Lingkaran 4
ini berada didalam
jiwa manusia mengandung
pikiran-pikiran,
gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang
dapat dinyatakan secara
terbuka oleh si
individu kepada sesamanya,
yang dengan mudah
diterima dan dijawab
oleh sesamanya.
Lingkaran 3
mengandung konsepsi tentang
orang-orang,
binatang-binatang, atau benda-benda
yang oleh si
individu diajak bergaul
secara mesra dan
karib, yang bisa
dipakai sebagai tempat
berlindung dan tempat
mencurahkan isi hati
apabila ia sedang
terkena tekanan batin
tau dikejar-kejar oleh
kesedihan dan oleh
masalah masalah hidup
yang menyulitkan.
Lingkaran 2 tidak lagi
ditandai oleh sikap
sayang dan mesra,
melainkan ditentukan oleh
fungsi kegunaan dari
orang, binatang atau
benda-benda itu bagi
dirinya.
Lingkaran 1
terdiri dari pikiran
dan sikap dalam
alam jiwa manusia
tentang manusia, benda-benda,
alat-alat, pengetahuan dan
adat yang ada
dalam kebudayaan dan
masyarakat sendiri, tetapi
yang jarang sekali
mempunyai arti dan pengaruh
langsung terhadap kehidupan
sehari-hari.
Lingkaran 0 terdiri
dari pikiran-pikiran dan
anggapan-anggapan yang hapir
sama dengan lingkaran
1, bedanya yakni pikiran-pikiran dan
anggapan-anggapan tentang orang
dan hal yang
terletak di luar
masyarakat dan negara
Indonesia, dan ditanggapi
oleh individu bersangkutan
dengan sikap masa
bodoh.
Banyak orang
masih sering mempersoalkan
perbedaan kebudayaan Barat
dan Timur. Padahal
konsep itu beasal
dari orang Eropa
Barat ketika mereka
menjelajah dunia, menguasai
wilayah Afrika, Asia
dan Oseania, dan
memantapkan
pemerintah-pemerintah
jajahan mereka dimana-mana.
Semua kebudayaan diluar
kebudayaan mereka di
Eropa Barat disebutnya
kebudayaan Timur, sebagai
lawannya kebudayaan mereka
sendiri yang mereka
sebut kebudayaan Barat.
Mereka
yang
sering mendiskusikan kontras
antara kedua konsep
tersebut secara populer,
biasanya menyangka kebudayaan
timur lebih mementingkan
kehidupan kerohanian, mistik,
pikiran preologis, keramahtamahan, dan
gotong royong. Kebudayaan
barat lebih mementingkan
kebendaan, pikiran logis,
hubungan asas guna,
dan individualisme.
D. PENGERTIAAN
KEBUDAYAAN
Kebudayaan jika
dikaji dari asal
kata bahasa sansekerta
berasal dari kata
budhayah yang berarti
budi atau akal.
Dalam bahasa latin,
kebudayaan berasal dari
kata colere, yang
berarti mengolah tanah.
Jadi kebudayaan secara
umum dapat diartikan
sebagai “segala sesuatu
yang dihasilkan oleh
akal budi (pikiran)
manusia dengan tujuan
untuk mengolah tanah
atau tempat tinggalnya.
Atau dapat pula
diartikan segala usaha
manusia untuk dapat
melangsungkan dan mempertahankan hidupnya
didala lingkungannya”. Budaya
dapat pula diartikan
sebagai himpunan pengalaman
yang dipelajari, mengacu
pada pola-pola perilaku
yang ditularkan secara
sosial, yang merupakan
kekhususan kelompok sosial
tertentu. (Keesing, jilid I, 1989).
Menurut E.B. Taylor
(1871),
kebudayaan adalah kompleks
yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral,
hukum, adat istiadat
dan kemampuan-kemampuan lain
serta kebiasaan-kebiasaan yang
didapatkan oleh manusia
sebagai anggota masyarakat.
Selo Sumarjan
dan Soelaeman Soemardi merumukan
kebudayaan sebagai semua
hasil karya, rasa
dan cipta masyarakat. Sutan Takdir
Alisyahbana
mengatakan bahwa kebudayaan
adalah manifestasi dari
cara berpikir. Koentjaraningrat mengatakan
kebudayaan berarti keseluruhan
gagasan dan karya
manusia yang harus
dibiasakannya dengan belajar
beserta keseluruhan dari hasil
budi pekertinya.
A.L K dan
C.Kluckhon
mengatakan, kebudayaan
adalah menifestasi atau
penjelmaan kerja jiwa
manusia dalam arti
seluas-luasnya. C.A.Van Peursen mengatakan,
kebudayaan diartikan sebagai
manifestasi kehidupan setiap
orang, dan kehidupan
setiap kelompok orang-orang,
berlainan dengan hewan-hewan,
maka manusia tidak
hidup begitu saja
ditengah alam, melainkan
selalu mengubah alam.
Kroeber dan
Klukhon
mendifinisikan kebudayaan terdiri
atas berbagai pola,
bertingkah laku mantap,
pikiran, perasaan dan
rekreasi yang diperoleh
dan terutama diturunkan
oleh simbol-simbol yang
menyusun pencapaiannya secara
tersendiri dari kelompok-kelompok manusia,
termasuk didalamnya perwujudan
benda benda materi
pusat esensi kebudayaan
terdiri atas tradisi
dan cita-cita atau
paham, dan terutama
keterikatan terhadap nilai-nilai.
Secara praktis
bahwa kebedayaan merupakan
sistem nilai dan
gagasan utama (vital).
Sistem nilai dan
gagasan utama sebagai
hakekat kebudayaan terwujud
dalam tiga sistem
kebudayaan secara terperinci,
yaitu sistem ideologi,
sistem sosial, dan
sistem teknologi.
Sistem ideologi
meliputi etika, norma,
adat istiadat, peraturan
hukum yang berfungsi
sebagai pengarahan untuk
sistem sosial dan
berupa interprestasi operasional
dari sistem nilai
dan gagasan utama
yang berlaku dalam
masyarakat.
Sitem sosial
meliputi hubungan dan
kegiatan sosial didalam
masyarakat, baik yang
terjalin didalam lingkungan kerabat,
maupun yang terjadi
dengan masyarakat lebih
luas serta pemimpin-pemimpinnya. Sistem teknologi
meliputi segala perhatian
serta penggunaannya, sesuai
dengan nilai budaya
yang berlaku.
E. UNSUR-UNSUR
KEBUDAYAAN
Menurut Melville J.Herkovits bahwa
ada empat unsur
dalam kebudayaan, yaitu
alat-alat teknologi, sistem
ekonomi, keluarga, dan
kekuatan politik. Menurut
Bronislaw
Malinowski mengatakan bahwa
unsur-unsur itu terdiri
dari sistem norma,
organisasi ekonomi, alat-alat
atau lembaga ataupun
petugas pendidikan, dan
organisasi kekuatan.
Menurut C.Kluckhon,
ada tujuuh unsur
kebudayaan universal, yaitu :
1.
Sistem
religi (sistem kepercayaan).
Merupakan produk
manusia sebagai homo
religius.
2.
Sistem
organisasi kemasyarakatan.
Merupakan produk
dari manusia sebagai
homo socius.
3.
Sistem
pengetahuan.
Merupakan produk
manusia sebagai homo
sapiens.
4.
Sistem
mata pencaharian hidup
dan sistem-sistem ekonomi.
Merupakan produk
manusia sebagai homo
economicus menjadikan tingkat
kehidupan manusia secara
umum terus meningkat.
5.
Sistem
teknologi dan peralatan.
Merupakan produk
dari manusia sebagai
homo faber.
6.
Bahasa.
Merupakan produk
dari manusia sebagai
homo longuens.
7.
Kesenian.
Merupakan hasil
dari manusia sebagai
homo aesteticus.
F. WUJUD
KEBUDAYAAN
Menurut dimensi
wujudnya, kebudayaan mempunyai
tiga wujud yaitu :
1.
Kompleks
gagasan, konsep, dan
pikiran manusia :
Wujud ini
disebut sistem budaya,
sifatnya abstrak, tidak
dapat dilihat, dan
berpusat pada kepala-kepala
manusia yang menganutnya,
atau dengan perkataan
lain, dalam alam
pikiran warga masyarakat
dimana kebudayaan bersangkutan
hidup.
2.
Kompleks
aktivitas :
Berupa aktivitas
manusia yang saling
berinteraksi, bersifat kongkret,
dapat diamati atau
diobservasi.
3.
Wujud
sebagai benda :
Aktivitas manusia
yang saling berinteraksi
tidak lepas dari
berbagai penggunaan peralatan
sebagai hasil karya
manusia untuk mencapai
tujuannya.
G. ORIENTASI
NILAI BUDAYA
Menurut C.Kluckhohn
dalam karyanya Variations
in Value Orientation
(1961) sistem nilai
budaya dalam semua
kebudayaan di dunia,
secara universal menyangkut
lima masalah pokok
kehidupan manusia, yaitu :
1.
Hakekat
hidup manusia (MH)
Hakekat hidup
untuk setiap kebudayaan
berbeda secara ekstern;
ada yang berusaha memadamkan
hidup, ada pula
yang dengan pola-pola
kelakuan tertentu menganggap
hidup sebagai suatu
hal yang baik,
“mengisis hidup”.
2.
Hakekat
karya manusia (MK)
Setiap kebudayaan
hakekatnya berbeda-beda, diantaranya
ada yang beranggapan
bahwa karya bertujuan
untuk hidup, karya
memberikan kedudukan atau
kerhomatan, karya merupakan
gerak hidup untuk
menambah karya lagi.
3.
Hakekat
waktu manusia (WM)
Hakekat waktu
untuk setiap kebudayaan
berbeda; ada yang
berpandangan mementingkan orientasi
masa lampau, ada
pula yang berpandangan
untuk masa kini
atau masa yang
akan datang.
4. Hakekat
alam manusia (MA)
Ada kebudayaan
yang menganggap manusia
harus mengeksploitasi alam
atau memanfaatkan alam
semaksimal mungkin, ada
pua kebudayaan yang
beranggapan manusia harus
harmonis dengan alam
dan manusia harus
menyerah kepada alam.
5.
Hakekat
hubungan manusia (MN)
Dalam hal
ini ada yang
mementingkan hubungan manusia
dengan manusia, baik
secara horizontal (sesamanya)
maupun secara vertikal
(orientasi kepada tokoh-tokoh).
Ada pula yang
berpandangan individualistis (menilai
tinggi kekuatan sendiri).
H. PERUBAHAAN
KEBUDAYAAN
Perubahan kebudyaan
ialah perubahan yang
terjadi dalam sistem
ide yang dimiliki
bersama oleh para
warga masyarakat atau
sejumlah warga masyarakat
yang bersangkutan, antara
lain aturan-aturan, norma-norma
yang dignakan sebagai
pegangan dalam kehidupan,
juga teknologi, selera,
rasa keindahan (kesenian),
dan bahasa.
Perubahan
kebudayaan (akulturasi) terjadi
bila suatu kelompok
yang memiliki kebudayaan
tertentu dihadapkan pada
usur-unsur suatu kebudayaan
asing yang berbeda,
sehingga unsur-unsur kebudayaan
asing itu lambat
laun diterima dan
diolah kedalam kebudayaan
sendiri, tanpa menghliangkan
kepribadian kebudayaan itu
sendiri.
Beberapa
masalah yang menyangkut
proses akulturasi adalah :
a.
Unsur-unsur kebudayaan
asing manakah yang
mudah diterima.
b.
Unsur-unsur kebudayaan
asing manakah yang
sulit diterima.
c.
Individu-indivdu manakah
yang cepat menerima
unsur-unsur yang baru.
d.
Ketegangan-ketegangan apakah
yang timbul sebagai
akibat akulturasi tersebut.
1. Unsur kebudayaan
asing yang mudah
diterima :
a. Unsur kebudayaan
kebendaan seperti peralatan
yang terutama sangat
mudah dipakai dan
dirasakan sangat bermanfaat
bagi masyarakat yang
menerimanya. Contohnya, alat
tulis yang dipergunakan
diambil dari unsur
kebudayaan barat.
b. Unsur-unsur yang
terbukti membawa manfaat
besar. Contohnya, telephone
yang sangat breguna
terutama sebagai alat
komunikasi.
c. Unsur-unsur yang
dengan mudah disesuaikan
dengan keadaan masyarakat
yang menerima unsur-unsur
tersebut. Seperti, mesin
penggiling padi yang
dengan biaya murah
serta pengetahuan teknis
sederhana, dapat digunakan
untuk melengkapi pabrik-pabrik
penggilingan.
2. Unsur kebudayaan
asing yang sulit
diterima :
a. Unsur yang
menyangkut sistem kepercayaan.
Contohnya, ideologi, falsafah
hidup, dan lain-lain.
b. Unsur-unsur yang
dipelajari pada taraf
pertama proses sosialisasi.
Contoh yang paling
mudah adalah soal
makanan pokok suatu
masyarakat.
3. Umumnya generasi
muda dapat dengan
cepat menerima unsur
kebudayaan asing yang
masuk melalui proses
akulturasi. Sedangkan generasi
tua, sukar menerima
unsur baru.
4. Beberapa kelompok
individu ada yang
sulit menerima proses
akulturasi, jika kelompok
individu tersebut golongan
kuat, mungkin proses
perubahan dapat ditahan.
Sebaliknya bila kelompok
itu golongan lemah,
mereka hanya dapat
menunjukkan sikap tidak
puas. Berbagai faktor
yang mempengaruhi diterima
atau tidaknya suatu
unsur kebudayaan baru
diantaranya :
a. Terbatasnya masyarakat
memiliki hubungan atau
kontak dengan kebudayaan
dan dengan orang-orang
yang berasal dari
luar masyarakat tersebut.
b. Jika pandangan
hidup dan nilai-nilai
yang dominan dalam
suatu kebudayaan ditentukan
oleh nilai-nilai agama,
dan ajaran ini
terjalin erat dalam
keseluruhan pranata yang
ada, maka penerimaan
unsur baru itu
mengalami hambatan dan
harus disensor dulu
oleh berbagai ukuran
yang berlandaskan ajaran
agama yang berlaku.
c. Corak struktur
sosial suatu masyarakat
turut menentukan proses
penerimaan kebudayaan baru.
d. Suatu unsur
kebudayaan diterima jika
sebelumnya sudah ada
unsur-unsur kebudayaan yang
menjadi landasan bagi
diterimanya unsur kebudayaan
yang baru tersebut.
e. Apabila unsur
yang baru itu
memiliki skala kegiatan
yang terbatas, dan
dapat dengan mudah
dibuktikan kegunaanya oleh
warga masyarakat yang
bersangkutan.
I. KAITAN
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Secara sederhana
hubungan antara manusia
dan kebudayaan adalah
manusia sebagai perilaku
kebudayaan dan kebuayaan
merupakan obyek yang
dilaksankan manusia. Dalam
sosiologi manusia dan
kebudayaan dinilai sebagai
dwitunggal, maksudnya bahwa
walaupun berbeda tetapi
keduanya merupakan satu
kesatuan.
Hubungan
antara manusia dan
kebudayaan dapat dipandang
setara dengan hubungan
antara manusia dengan
masyarakat dinyatakan sebagai
dialektis, maksudnya saling
terikat satu sama
lain. Proses dialektis
ini tercipta melalui tiga
tahap yaitu :
1.
Eksternalisasi yaitu
proses dimana manusia
mengekspresikan dirinya dengan
membangun dunianya.
2.
Obyektivasi yaitu
proses dimana masyarakat
menjadi realitas obyektif,
yaitu suatu kenyataan
yang terpisah dari
manusia dan berhadapan
dengan manusia.
3.
Internalisasi yaitu
proses dimana masyarakat
disergap kembali oleh
manusia.
BAB 3
KONSEPSI ILMU
BUDAYA DASAR DALAM
KESUSASTRAAN
A. PENDEKATAN
KESUSASTRAAN
IBD semula
dinamakan Basic Humanities,
berasal dari bahasa
inggris the humanities.
Istilah ini berasal
dari bahasa latin
humanus, yang berarti manusiawi,
berbudaya, dan halus.
Jadi the humanities
berkaitan dengan masalah
nilai, yaitu nilai
kita sebagai homo
humanus.
Pada umumnya the
humanities mencakup filsafat,
teologi, seni dan cabang-cabangnya termasuk
sastra, sejarah, cerita
rakyat, dan sebagainya.
Karena itu ada
yang menterjemahkan the
humanities menjadi ilmu-ilmu
kemanusiaan, ada juga
yang menterjemahkan menjadi
pengetahuan budaya.
Seni termasuk sastra
memegang peranan penting
dalam the humanities.
Ini karena seni
merupakan ekspresi nilai-nilai
kemanusiaan, dan bukannya
formulasi nilai-nilai kemanusiaan
seperti yang terdapat
dalam filsafat atau
agama. Seni adalah
ekspresi yang sifatnya
tidak normatif. Karena
tidak normatif, nilai-nilai
yang disampaikannya lebih
fleksibel, baik isinya maupun
cara penyampaiannya.
Karena sastra mempergunakan
bahasa, kenyataan inilah
mempermudah sastra untuk
berkomunikasi. Sastra juga
lebih mudah berkomunikasi, karena
pada hakekatnya karya
sastra adalah penjabaran
abstraksi.
IBD dimaksudkan semata-mata
sebagai salah satu
usaha mengembangkan kepribadian
mahasiswa dengan cara
memperluas wawasan pemikiran
serta kemampuan kritikalnya
terhadap nilai-nilai budaya.
Orientasi the Humanities
adalah ilmu dengan
mempelajari satu atau
sebagian dari disiplin
ilmu yang tercakup
dalam the humanities.
B. ILMU
BUDAYA DASAR YANG
DIHUBUNGKAN DENGAN PROSA
Istilah prosa padanannya,
kadang disebut narrative
fiction, porse fiction
atau hanya fiction
saja. Dalam bahasa
indonesia istilah tadi
diterjemahkan menjadi cerita rekaan
dan difenisikan sebagai
bentuk cerita atau
prosa kisahan yang
mempunyai pemeran, lakukan,
peristiwa dan alur
yang dihasilkan oleh
daya khayal atau
imajinasi.
Dalam kesusastraan indonesia
kita mengenal jenis
prosa lama dan
prosa baru.
A.
Prosa
lama meliputi
1. Dongeng-dongeng
2. Hikayat
3. Sejarah
4. Epos
5. Cerita pelipur
lara
B.
Prosa
baru meliputi
1. Cerita pendek
2. Roman/novel
3. Biografi
4. Kisah
5. Otobiografi
C. NILAI-NILAI
DALAM PROSA FIKSI
Nilai-nilai yang
diperoleh pembaca lewat
sastra (prosa fiksi)
antara lain :
1.
Prosa
fiksi memberikan kesenangan
2.
Prosa
fiksi memberikan informasi
3.
Prosa
fiksi membeerikan warisan
kultural
4.
Prosa
memberikan keseimbangan wawasan
D. ILMU
BUDAYA DASAR YANG
DIHUBUNGKAN DENGAN PUISI
Puisi adalah
ekspresi pengalaman jiwa
penyair mengenai kehidupan
manusia, dan Tuhan
melalui media bahasa
yang artistik/estetik, yang
secara padu dan
utuh dipadatkan kata-katanya.
Kepuitisan,
keartistikan atau keestetikan
bahasa puisi disebabkan
oleh kreativitas penyair
dalam membangun puisinya
dengan menggunakan :
1.
Figura
bahasa seperti gaya
personifikasi, metafora, perbandingan,
alegori, dsb. Sehingga
puisi jadi segar,
hidup, menarik dan
memberi kejelasan gambaran
angan.
2.
Kata-kata yang
ambiguitas yaitu kata-kata
yang bermakna ganda,banyak
tafsir.
3.
Kata-kata berjiwa
yaitu kata-kata yang
sudah diberi suasana
tertentu, berisi perasaan
dan pengalaman jiwa
penyair sehingga terasa
hidup dan memukau.
4.
Kata-kata konotatif
yaitu kata-kata diberi
tambahan nilai-nilai rasa
dan asosiasi-asosiasi tertentu.
5.
Pengulangan, yang
berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal
yang dilukiskan, sehingga
lebih menggugah hati.
Alasan yang
mendasari penyajian puisi
pada perkuliahan Ilmu
Budaya Dasar :
1.
Hubungan
puisi dengan pengalaman
hidup manusia.
Perekaman dan
penyampaian pengalaman dalam
sastra puisi disebut
“pengalaman perwakilan”. Dengan
pengalaman perwakilan itu
sastra/puisi dapat memberikan
kepada para mahasiswa
memiliki kesadaran (insight-wawasan) yang
penting untuk dapat
melihat dan mengerti
bnyak tentang dirinya
sendiri dan tentang
masyarakat.
2.
Puisi
dan keinsyafan/kesadaran individual.
Dengan membaca
puisi kita diajak
untuk dapat menjenguk
hati/pikiran, baik orang lain
atau diri sendiri,
karena melalui puisinya
sang penyair menunjukkan
kepada pembaca bagian
dalam hati manusia,
ia menjelaskan pengalaman
setiap orang.
3.
Puisi
dan keinsyafan sosial
Puisi juga
memberikan tentang pengetahuan
manusia sebagai mahluk
sosial, yang terlibat
dalam isue dan
problem sosial.
BAB4
MANUSIA DAN
CINTA KASIH
A. PENGERTIAN
CINTA KASIH
Menurut kamus
umum bahasa indonesia
karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah
rasa sangat suka
(kepada) atau (rasa)
sayang (kepada), ataupun
(rasa) sangat kasih
atau sangat tertarik
hatinya. Kasih artinya perasaan
sayang atau cinta
kepada atau menaruh
belas kasihan. Cinta
kasih dapat diartikan
sebagai perasaan suka
(sayang) kepada seseorang
yang disertai dengan
menaruh belas kasihan.
Cinta lebih mengandung
perhatian mendalamnya rasa,
sedangkan kasih lebih
keluarnya; dengan kata
lain bersumber dari
cinta yang mendalam
itulah kasih dapat
diwujudkan secara nyata.
Dalam bukunya seni
mecinta, Erich fromm menyebutkan,
bahwa cinta itu
terutama memberi. Cinta
menyatakan unsur-unsur dasar
tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung
jawab, perhatian dan
pengenalan. Pada pengasuhan contoh
yang paling menonjol
adalah cinta seorang
ibu pada anaknya.
Tanggung jawab dalam arti
benar adalah suatu
tindakan yang sama
sekali suka rela
yang dalam kasus
hubungan ibu dan bayinya menunjukkan
penyelenggaraan atas hubungan
fisik. Perhatian berarti memperhatikan
bahwa pribadi lain
itu hendaknya berkembang
dan membuka diri
sebagaimana adanya. Pengenalan merupakan
keinginan untuk mengetahui
rahasia manusia. Dengan
empat unsur tersebut,
cinta dapat dibina
lebih baik.
Dr. Sarlito
W.Sarwono mengatakan,
cinta memiliki 3
unsur yaitu keterikatan, keintiman,
dan kemesraan. Keterikatan
adalah adanya perasaan
untuk hanya bersama
dia, segala prioritas
untuk dia, tidak
mau pergi dengan
orang lain kecuali
dengan dia. Keintiman yaitu
adanya kebiasaan-kebiasaan dan
tingkah laku yang
menunjukkan bahwa antara
anda dengan dia
sudah tidak ada
jarak lagi. Kemesraan yaitu
adanya rasa ingin
membelai atau dibelai,
rasa kangen kalau
jauh atau lama
tidak bertemu, adanya
ucapan-ucapan yang mengungkapkan
rasa sayang, dan
seterusnya.
Dr. Sarlito
W.Sarwono juga mengemukakan,
tidak semua unsur
cinta itu sama kuatnya.
Kadang ada yang
keterikatannya sangat kuat,
tetapi keintiman atau
kemesraannya kurang. Cinta
seperti itu dinamakan
“cinta yang pincang”
karena unsur cintanya
tidak seimbang. Lebih
berat lagi bila
salah satu unsur
cinta tidak ada,
cinta yang demkian
itu tidak sempurna
dan dapat disebutkan
bukan cinta.
Dr. Abdullah
Nasih Ulwan, dalam
bukunya manajemen cinta.
Cinta adalah
perasaan jiwa dan
gejolak hati yang
mendorong seseorang untuk
mencintai kekasihnya dengan
penuh gairah, lembut,
dan kasih saya.
Didalam kitab Suci
Alqur’an, ditemui fenomena
cinta yang bersembunyi
didalam jiwa manusia.
Cinta memiliki tiga
tingkatan : tinggi, menengah, dan
rendah. Tingkatan tersebut
berdasarkan firman Allah
dalam surah At-Taubah
ayat 24, artinya :
“Katakanlah: jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri
keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu
khawatirkan kerugiannya, dan
rumah-rumah tempat tinggal
yang kamu sukai;
adalah lebih kamu
cintai dari pada
Allah dan Rasul-Nya
dan berjihad dijalanNya,
maka tunggulah sampai
Allah mendatangkan keputusanNya.
Dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik”.
Cinta tingkat
tertinggi adalah cinta
kepada Allah, Rasulullah
dan berjihad di
jalan Allah. Cinta tingkat
menengah adalah cinta
kepada orang tua,
anak, saudara, istri/suamoi
dan kerabat. Cinta tingkat
terendah adalah cinta
yang lebih mengutamakan
cinta keluarga, kerabat,
harta dan tempat
tinggal.
Untuk orang islam
yang bertakwa, menjadi
keharusan bahwa cinta
kepada Allah, rasulullah,
dan berjihad di
jalan Allah, merupakan
cinta yang tidak
ada duanya. Hakekat cinta
menengah adalah suatu
energi yang datang
dari perasaan hati
dan jiwa. Cinta tingkat
terendah adalah cinta
yang palinhg keji,
hina dan merusak
rasa kemanusiaan.
Hikmah cinta diantaranya
:
1.
Sesungguhnya cinta
itu merupakan ujian
yang berat dan
pahit dalam kehidupan
manusia, karena setiap
cinta akan mengalami
berbagai macam rintangan.
2.
Bahwa
fenomena cinta yang
telah melekat di
dalam jiwa manusia
merupakan pendorong dan
pembangkit yang paling
besar didalam melestarikan
kehidupan lingkungan.
3.
Bahwa
fenomena cinta merupakan
faktor utama didalam
kelanjutan hidup manusia,
dalam kenal-mengenal antar
mereka.
4.
Fenomena
cinta, jika diprhatikan
merupakan pengikat yang
paling kuat didalam
hubungan antar anggota
keluarga, kerukunan bermasyarakat, mengasihi
sesama mahluk hidup,
menegakkan keamanan, ketentraman,
dan keselamatan di
segala penjuru bumi.
B. CINTA
MENURUT AJARAN AGAMA
Dalam kehidupan
manusia, cinta terdapat
dalam berbagai bentuk.
Mencintai dirinya sendiri,
mencintai orang lain,
atau juga istri
dan anaknya, hartanya,
atua Allah dan
Rasulnya. Berbagai bentuk
cinta ini bisa
kita dapatkan dalam
kitab suci Al-Qur’an.
Cinta diri
Cinta diri
berkaitan dengan dorongan
menjaga diri. Manusia
mencintai sdegala sesuatu
yang mendatangkan kebaikan
pada dirinya, dan
membenci segala sesuatu
yang menghalanginya untuk
hidup, berkembang dan
mengaktualisasikan diri.
Diantara
gejala yang menunjukkan
kecintaan manusia terhadap
dirinya sendiri ialah
kecintaannya yang sangat
terhadap harta, yang
dapat mewujudkan dan
memudahkan segala keinginannya.
(QS, al-“Adiyat,100:8)
Hendaknya
cinta manusia pada
dirinya sendiri tidaklah
terlalu
berlebihan.sepatutnya cinta pada
diri sendiri diimbangi
dengan cinta pada
orang lain.
Cinta kepada
sesama manusia
Manusia hendaknya
menyeimbangkan cinta diri sendiri
dan cinta kepada
sesama. Agar dapat
hidup penuh dengan
keserasian dan keharmonisan
dengan manusia lainnya.
Al-Qur’an juga menyeru
kepada orang-orang yang
beriman agar saling
cinta mencintai seperti
mereka cinta pada
diri sendiri. Dalam
seruan itu sesungguhnya
tekandung pengarahan kepada
para mukmin agar
tidak berlebihan dalam
cinta pada diri sendiri.
Cinta seksual
Cinta erat
kaitannya dengan dorongan
seksual. Sebab ialah
yang bekerja dalam
melestarikan kasih sayang,
keserasian, dan kerjasama
antara suami dan
istri. Dorongan seksual
sangat penting karena
dengan dorongan seksualah
terbentuk keluarga. Dari
keluarga terbentuk masyarakat
dan bangsa. Islam
mengakui dorongan seksual
dan tidak mengingkarinya. Artinya ia
mengakui pula cinta
seksual yang yang
menyertai dorongan tersebut.
Yang diserukan islam
hanyalah pengendalian dan
penguasaan cinta ini,
lewat pemenuhan dorongan
tersebut dengan cara
yang sah, yaitu
dengan perkawinan.
Cinta kebapakan
Cinta
kebapakan berbeda dengan
cinta keibuan, para
ahli ilmu jiwa
modern berpendapat bahwa
dorongan kebapakan bukanlah
dorongan fisiologis seperti halnya
dorongan keibuan, melainkan
dorongan psikis. Cinta
kebapakan adalah itu
penting karena merupakan
sumber kekuatan, kegembiraan
dan kebanggaan, dan
faktor penting bagi
kelangsungan peran bapak
dan kehidupan dan
terkenangnya dia setelah
meninggal dunia.
Ini terlihat jelas
dalam doa Zakaria
as, yang memohon
pada Allah semoga
ia dikaruniai seorang
anak yang akan
mewarisinya dan mewarisi
keluarga Ya’qub :
“Ia berkata
:“Ya Tuhanku, sesungguhnya
tulangku telah lemah
dan kepalaku telah
dipenuhi uban, dan
aku belum pernah
kecewa dalam berdoa
kepada Engkau, ya
Tuhanku. Dan sesungguhnya
aku khawatirterhadap mewaliku
sepeninggalku, sedang istriku
adalah seorang yang
mandul, maka anugerahilah
aku dar sisi
Engkau seorang putra,
yang akan mewarisi
keluarga Ya’qub; dan
jadikanlah ia, ya
Tuhanku, seorang yang
diridhai : (QS, Maryam, 19:4-6)
Cinta kebapakan
dalam Al-qur’an diisyaratkan
dalam kisah nabi
Nuh as. Yang
memanggil ankanya dengan
rasa cinta agar
naik ke perahu
agar tidak tenggelam.
“..Dan Nuh
memangil anaknya - sedang anak
itu berada di
tempat yang jauh
terpencil-: “Hai..anakku,
naiklah (kekapal) bersam
kami dan janganlah
kamu berada bersama-sama
orang-orang yang kafir”.
(QS, Yusuf, 12:84)
Biasanya cinta
kebapakan nampak dalam
perhatian seorang bapak
pada anak ankanya,
asuhan, nasehat, dan
pengarahan yang diberikannya
pada mereka, demi
kebaikan dan kepentingan
mereka sendiri.
Cinta kepada
Allah
Puncak cinta manusia
yang paling bening,
jernih dan spiritual
ialah cintanya kepada
Allah dan kerinduannya
kepada-Nya. Tidak hanya
dalam shalat, pujian,
dan doanya saja,
tetapi juga dalam
semua tindakan dan
tingkah lakunya.
“Katakanlah : “Jika
kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku,
niscaya allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu”.
Allah maha pengampun
lagi maha penyayang”
(QS, Ali Imran,
3:31)
Cinta kepada
Rasul
Cinta kepada Rasul
menduduki peringkat ke
dua setelah cintaya
kepada Allah. Rasul
merupakan ideal sempurna
bagi manusia baik
dalam tingkah laku,
moral, maupun berbagai
sifat luhur lainnya.
C. KASIH
SAYANG
Kasih sayang
menurut kamus umum
bahasa indonesia karangan
W.J.S. Poerwadarminta adalah perasan
sayang, perasaan cinta
atau perasaan suka
kepada seseorang. Dalam
kasih sayang sadar
atau tidak, dari
masing masing pihak
dituntut tanggung jawab,
pengorbanan, kejujuran, saling
percaya, saling pengertian,
saing terbuka, sehingga
keduanya merupakan kesatuan
yang bulat dan
utuh.
Kasih sayang, dasar
komunikasi dalam suatu
keluarga. Komunikasi antara
anak dan orang
tua. Pada prinsipnya
anak terlahir dan
terbentuk sebagai hasil
curahan kasih sayang
orang tuanya. Pengembangan
watak ank dan
selanjutnya tak boleh
lepas dari kasih
sayang dan perhatian
orang tua.
Orang tua dalam
memberikan kasih sayangnya
bermacam-macam demikian ula sebaliknya. Dari
cara pemberian cinta
kasih ini dibedakan
:
1.
Orang
tua bersifat aktif,
si anak bersifat
pasif.
Dalam hal
ini orang tua
memberikan kasih sayang
terhadap anaknya baik
berupa moral-materil dengan
sebanya-banyaknya, dan si
anak menerima saja,
mengiyakan, tanpa memberikan
respon.
2.
Orang
tua bersifat pasif,
si anak bersifat
aktif.
Dalam hal
ini si anak
berlebih-lebihan memberikan kasih
sayang terhadap orang
tuanya, kasih sayang
ini diberikan secara
sepihak, orang tua
mendiamkan saja tingkah
laku si anak,
tidak memberikan perhatian
apa yang diperbuat
si anak.
3.
Orang
tua bersifat pasif,
si anak bersifat
pasif.
Disini jelas
bahwa masing masing
membawa hidupnya, tingkah
lakunya sendiri sendiri,
tanpa saling memperhatikan. Kehidupan
keluarga sangat dingin,
tidak ada kasih
sayang, masing-masing membawa
caranya sendiri, tidak
ada tegur sapa
jika tidak perlu.
Orang tua hanya
memenuhi dalam bidang
materi saja.
4.
Orang
tua bersifat aktif,
si anak bersifat
aktif.
Dalam hal
ini orang tua
dan anak saling
memberikan kasih sayang
dengan sebanyak-banyaknya. Sehingga
hubungan antara orang
tua dan anak
sangat intim dan
mesra, saling mencintai,
saling menghargai, saling
membutuhkan.
D. KEMESRAAN
Kemesraan berasal
dari kata dasaar
mesra, yang artinya
perasan simpat yang
akrab. Kemesraan ialah
hubungan yang akrab
baik antara pria
wanita yang sedang
dimabuk asmara. Filsuf
Rusia, Salovjef dalam
bukunya makna kasih
mengatakan “jika seorang
pemuda jatuh cinta
pada sseorang gadis
secara seerius, ia
terlempar keluar dari
cinta diri. Ia
mulai hidup untuk
orang lain.”
Yose Ortage Y.
Gasset dalam novelnya “On love”
mengatakan dikedalaman sanubarinya
seorang pencinta merasa
dirinya bersatu tanpa
syarat dengan obyek
cintanya. Persatuan bersifat
kebersamaan yang mendasar
dan melibatkan seluruh
eksistensinya”. Yose juga
mengatakan, bahwa si
pecinta tidaklah kehilangan
pribadinya dalam aliran
enersi cinta tersebut.
Malahan pribadinya akan
diperkaya, dan dibebaskan.
Cinta itu agung
dan suci. Bila
seseorang mengobral cinta,
maka orang itu
merusak nilai cinta,
yang berarti menurunkan
martabat dirinya sendiri.
E. PEMUJAAN
Pemujaan adalah
salah satu manifestasi
cinta manusia kepada
Tuhannya yang diwujudkan
dalam bentuk komunikasi
ritual. Pemujaan kepada
Tuhan adalah inti,
nilai dan makna
kehidupan yang sebenarnya.
Itu karena Tuhan
mencipta alam semesta.
Seperti dalam surat
Al-Furqon ayat 59-60
yang mengatakan “Dia yang
menciptakan langit dan
bumi beserta apa-apa
diantara keduanya dalam
enam rangkaian masa,
kemudian dia bertahta
diatas singgasana-Nya”. Selanjutnya
ayat 60 “Bila dikatakan
kepada mereka, sujudlah
kepada Tuhan yang
maha pengasih”.
Tuhan adalah pencipta
sekaligus penghancur segalanya,
bila manusia mengabaikan
segala perintahnya. Karena
itu manusia selalu dihantui rasa takut
dan untuk menhilangkan
ketakutan itu manusia
memuja-Nya. “Dan aku
berlindung kepada-Mu. Ya
Tuhanku, dari kehadiran-Nya
didekatku (Al-Mu’minin ayat
98)”.
Dalam surat An-Nur
ayat 41 “apakah engkau
tidak tahu bahwasanya
Allah itu dipuja
oleh segalaya yang
ada dibumi dan
dilangit”. Pemujaan dilakukan
sesuai agama dan
kepercayaan. Shalat di
rumah, di masjid,sembahyang di
pura, di candi,
di gereja bahkan
di tempat-tempT Yang
dianggap keramat merupakan
perwujudan dari pemujaan
kepada Tuhan atau
yang dianggap Tuhan.
F. BELAS
KASIHAN
Dalam surat
Yohanes ada 3
macam cinta. Cinta Agape ialah cinta
manusia kepada Tuhan.
Cinta Philia
ialah cinta kepada
ibu bapak (orang
tua) dan saudara.
Cinta Amor/eros
ialah cinta antara
pria dan wanita.
Beda cinta eros
dan amor ialah
cinta eros karena
kodrati sebagai laki-laki
dan perempuan, sedangkan
cinta amor karena
unsur-unsur yang sulit
dinanar, misalnya gadis
normal yang cantik
mencintai dan mau
dinikahi seorang pemuda
yang kerdil.
Disamping itu ada
lagi cinta terhadap
sesama, yang merupakan
perpaduan antara cinta
agape dan cinta
philia. Cinta sesama
ini diberikan istilah
belas kasihan untuk
membedakan antara cinta
kepada orang tua,
pria-wanita, cinta kepada
Tuhan.
Dalam cinta sesama
ini dipergunakan istilah
belas kasihan, karena
cinta disini bukan
karena cakapnya, kayanya,
cantiknya, pandainya, melainkan
karena penderitaannya (mungkin
tua, sakit-sakitan, yatim,
yatim piatu, penyakit
yang dideritanya).
Jadi kasihan atau
rahmah berarti bersimpati
kepada nasib atau
keadaan yang diderita
orang lain. Lalu
apa bedanya Rahmah
dengan Rahman? Kalau
Rahman ada unsur
memberi. Misal seseorang
memusuhi kita, tetapi
kita tidak membalasnya,
malahan kita jadikan dia
sebagai teman baik.
Jadi pengertian rahmah
adalah kita menaruh
perhatian (simpati) terhadap
penderitaan orang lain,
lalu kita menunjukkan
jalan keluar kepadanya.
Dalam surat Al-Qolam
ayat 4, maka
manusia menaruh belas
kasihan kepada orang
lain, karena belas
kasihan adalah perbuatan
orang yang berbudi.
Sedangkan orang yang
berbudi sangat dipujikan
oleh Allah SWT.
a.
Cara-cara menumpahkan
belas kasihan
Ada
banyak cara kita
menumpahkan belas kasihan
bergantung kepada situasi
dan kondisi. Ada
yang memberikan uang,
barang, pakaian, makanan,
dll. Orang-orang yang
perlu kita kasihani
antara lain : pengemis,
orang sakit, orang
cacat, dan sebagainya,
G. CINTA
KASIH EROTIS
Cinta kasih
erotis yaitu kehausan
akan penyatuan yang
sempurna, akan penyatuan
dengan seseorang lainnya.
Pada hakekatnya cinta
kasih tersebut bersifat
ekslusif, bukan universal,
dan juga barangkali
merupakan bentuk cinta
kasih yang paling
tidak dapat dipercaya.
Pertama-tama cinta kasih
erotis kerap kali
dicampurbaurkan dengan pengalaman
yang eksplosif berupa
jatuh cinta, yaitu
keruntuhan tiba-tiba tembok
yang sampai waktu
itu terdapat diantara
dua orang yang
asing satu sama
lain. Tetapi pengalaman
intimitas, kemesraan yang
tiba-tiba ini pada
hakekatnya hanyalah sementara
saja. Bilamana orang
asing telah menjadi
seseorang yang diketahui
secara intim, tak
ada lagi yang
harus diatasi, tidak
ada lagi kemesraan
tiba-tiba yang harus
diperjuangkan.
Pribadi yang dicintai
telah dipahami orang
seperti dirinya sendiri.
Atau barangkali harus
dikatakan “kurang” dipahami
seperti dirinya sendiri.
Apabila terdapat perasaan
yang telah mendalam
terhadap pribadi yang
lain apabila orang
dapat mengalami ketakterhitungan pribadinya
sendiri, maka pribadi
orang lain tidak
pernah akan begitu
biasa baginya,, dan
keajaiban mengatasi rintangan-rintangan dapat
terjadi lagi berulang-ulang tiap
hari.
Untuk mereka intimitas
atau kemesraan itu
terutama diperoleh dengan
cara hubungan seksual.
Karena mereka mengalami
keterpisahan orang lain
terutama sebagai keterpisahan
fisik, maka dengan
mengadakan penyatuan fisik,
orang telah mengatasi
keterpisahan tersebut.
Adapula
faktor lain yang
mempunyai arti sebagai
cara mengatasi keterpisahan
seperti bercakap-cakap tentang
kehidupan diri pribadi,
tentang
pengharapan-pengharapan dan kecemasan-kecemasannya, menampakkan
diri dengan segi-segi
keanehannya, mengadakan hubungan
dan minat yang
sama terhadap dunia
sekitar, semuanya itu
dilaksankan untuk mengatasi
keterpisahan.
Keinginan seksual menuju
kepada penyatuan diri,
tetapi sekali-kali bukan
merupakan nafsu fisis
belaka, untuk meredakan
ketegangan yang menyakitkan.
Keinginian seksual dengan
mudah dicampuri atau
distimulasi oleh perasaan
yang mendalam.
Dalam cinta kasih
erotis terdapat eksklusivitas
yang perlu dibicarakan
lebih lanjut. Cinta
kasih itu eksklusif
hanyalah dalam arti
bahwa seseorang dapat
menyatukan dirinya secara
lengkap dan intensif
hanya dengan satu
orang lain saja.
Cinta kasih erotis
mengeksklusifkan cinta kasih
terhadap orang lain
hanyalah dalam segi-segi
fusi erotis dan
keikutsertaam selengkapnya dengan
semua aspek kehidupan
orang-orang lain, tetapi
bukan dalam arti
cinta kasih kesaudaraan
yang mendalam terhadap
orang lain.
Cinta kasih erotis
apabila ia benar-benar
cinta kasih, mempunyai
satu pendirian, yaitu
bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai
dan mengasihi dengan
jiwanya yang sedalam-dalamnya, dan
mencintai pribadi orang
lain.
Tak usahlah kita ambil
pusing siapa yang
kita cintai dan
kita kasihi. Cinta
kasih pada hakekatnya
merupakan suatu perbuatan
kemauan, suatu keputusan
untuk mengikat kehidupan
dengan kehidupan seseorang
lain. Mencintai dan
mengasihi seseorang bukan
hanya merupakan perasaan
yang kuat melainkan
merupakan suatu putusan,
sutau penilaian, suatu
perjanjian.
Dengan
demikian maka, baik
pandangan bahwa cinta
kasih erotis merupakan
atraksi individual belaka
maupun pandangan bahwa
cinta kasih erotis
itu tidak lain
daripada perbuatan kemauan,
kedua-duanya benar, atau
lebih tepat jika
dikatakan bahwa tidak
terdapat pada yang
satu, juga pada
yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar